oleh : TGH.
Hasanain Djuaini
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum
Wr. Wb.
Mula-mula saya
gerah betul dengan sebuah pertanya:
"Tahukan anda
seorang raja muslim yang dibangga-banggakan ternyata tidak pernah sekalipun
membayar zakat?"
Sungguh pertanyaan
itu tak masuk akal sehat sehingga saya berfikir bahwa itu sekedar hoax yang ingin
mempermalukan ummat islam saja. Tapi ternyata setelah saya menelaah
eksiklopedi, jawabannya sangat jelas. Diala Sholahuddin Al-Ayyubi sang pahlawan
besar yang mendapatkan respek lawan dan kekal abadi dalam sanubari setiap
muslim yang mengenalnya.
Nah mengapa beliau
tidak pernah membayar zakat hartanya? Tidak lain karena selama umurnya beliau
tidak pernah memiliki harta yang jumlahnya sampai mencapai nishob. Subhanallah.
Malam Jum'at, tepat
tanggal 27 Rajab tahun 583 H, delapan ratus lima puluh tiga tahun yang lalu,
Raja Kristen Balian menyerah kepada Shalahuddin Al-Ayyubi yang telah mengepung
Al-Quds selama 12 hari. Itulah kenangan pertama ummat Islam terkait dengan
Peringatan Peristiwa Isra' Dan Mikraj Rasuullah s.a.w.
Pada pihak Kristen,
kenangan itu menjadi puncak rasa malu yang tiada terkira, demikian tulis Karen
Armstrong dalam bukunya Perang Salib II. mengapa gerangan demikian? Karena pada
perang Salib I, disaat tentara Frank merebut Al-Quds, mereka membantai 85,000
lebih ummat Islam yang berlindung di dalam Masjid, sehingga kaki-kaki kuda yang
mereka pakai memburu dan membantai ummat yang sudah tidak berdaya itu tenggelam
sampai kelututnya oleh jenazah bercampur darah.
Kini apa yang
dilakukan Shalahuddin atas mereka bukanlah balas dendam, tapi sebaliknya unjuk
kasih sayang.
Dr. Ali Muhammad
As-Syalabi dalam bukunya "Shalahuddin Al-Ayyuby" Menukilkan syair
yang dibaca shalahuddin ketika itu:
Saat kami berkuasa
Tabiat kami adalah
memberi maaf
Tapi, saat kuasa
ditangan kalian
maka yang menebar
adalah dendam dan darah
Kalian menghalalkan
darah para tawanan
Tapi di tangan
kami,
tawanan mendapatkan
kasih sayang dan kedamaian
Kami di sini dan
kalian disana, sungguh jauh berbeda
Sebuah bejana
hanya dapat
mengeluarkan
isi sesungguhnya
yang dikandungnya.
Dalam perjanjian
damai yang telah dicapai, Shalahuddin berjanji untuk membebaskan semua tawanan
yang berjumlah lebih dari 60,000 orang dengan tebusan 1000 dirham perorang.
Kembalilah rasa malu berganda tercoreng di jidat Ummat Kristiani dunia, karena
sejarah mencatat bahwa ketika ribuan pembesar Kristen keluar Palestina
membopong seluruh harta milik mereka yang berlimpah, membiarkan jemaat mereka
yang miskin tetap tersandera tanpa ada yang sudi menolong, bahkan sampai batas
waktu 60 hari yang disediakan masih tersisa begitu banyak sandera miskin yang
terancam menjadi budak.
Shalahuddin
kemudian meminta bagiannya, sebagai panglima, atas harta rampasan dan saat itu
juga dihabiskan untuk menebus seribu orang sandera. Beliau lalu membebaskan
mereka untuk pergi dengan damai. Setelah itu beliau memerintahkan kepada
jendral-jendral muslim yang lain untuk melakukan hal yang sama, sehingga hampir
seluruh tawanan dapat bebas. Akhirnya dengan haknya sebagai Pemimpin Ummat
Islam dia meminta untuk diizinkan memberikan maaf kepada sisa tawanan sehingga
tak tersisa satupun diantara mereka yang harus dipaksa menjadi budak.
Ummat Kristen di
Barat tidak tega menghapus tulisan sejarah yang sungguh telah memuliakan darah
mereka sehingga mereka memberikan kenangan manis kepada Shalahuddin melalui
sebuah film kolosal The Kingdom of Heaven alias Kerajaan Ala Syurga. Mereka
memanggil musuh yang mereka hormati itu dengan nama Saladdin.
Kembali saya
masukkan catatan Karen Armstrong yang secara kontras membandingkan perlakuan
Bangsa Inggris kepada Pahlawan Agung mereka Richard The Lion Heat, lawan
tanding Shalahuddin itu, bahwa untuk pulang ke Inggris Richard harus
terlunta-lunta dan bersembunyi sebagai pengemis karena kerajaan yang selama
puluhan tahun dia tinggalka demi memenuhi seruan Paus Urban II untuk berperang
membela kejayaan Agamanya merebut Palestina, saat itu sudah dikhianati dan
dirampas. Richard mati terhina, berbeda dengan Shalahuddin yang terus
diagungkan dan dijadikan symbol keberanian dan kasih sayang serta keikhlasan
membela Agama Allah.
Malam Rabu, 27
Shafar 589 H, Ibnu Syidad dalam Kitabnya: An-Nawadir As-Sulthoniyyah/hal 422
mencatat bahwa Shalahuddin Al-Ayyuby meninggalkan dunia fana dengan hanya
mewariskan uang sebanyak 1 dinar dan 36 dirham, jumlah yang tidak cukup untuk
membiayai pemakamannya sehingga kadhinya Al-Fadhil harus meminjamkan uang untuk
keperluan itu. Tidak ada rumah tidak ada tanah, kebun maupun ladang.
Hari itu adalah
hari yang 12 dari sakit demam yang beliau derita, bertepatan dengan suara
Syaikh Abu Ja'far membacakan Al-Qur'an surat Al-Hashr ayat 22:
"Dialah Allah
yang tiada Ilah selain Dia, yang mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata,
Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang". Shalahuddin berseru
"Benar... benar...benar...La ilaaha illa Allah"
Sulthon agung yang
tak pernah berzakat itupun menemui robb-nya.
==============
NB. Shalahuddin
dilahirkan di Tikrit, kelahiran Shaddam Husein, di Wilayah Kurdi yang kini
sudah dihapus dari peta sejarah oleh para imperialis. Akankah ummat Islam juga
hendak menghapus beliau dari benak mereka hanya karena berbeda kesukaan? Dia
cinta perjuangan sementara kita cinta kekayaan? Nauzubillah
Wassalamu'alaikum
Wr. Wb.
Narmada, 3 Juni 2013
25 Rajab 1434 H.