Oleh : TGH. Hasanain Juaini
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
{Maaf, terpaska berpanjang kalam, agar jelas duduk masalahnya}
Sejak 1996, saya sudah aktif menjadi anggota Komite Tarbiyah dan Dakwah isnet.org [selalu disingkat KTPDI]. Saat itu belum tersedia forum terbuka dan gratis seperti yahoogroups atau blogg maupun Facebook dan twitter. Satu-2nya server resmi saat itu ada di Washinton DC yang hanya bisa diakses menggunakan account resmi www.wasantara.net.id. Tugas saya waktu hanya menjawab pertanyaan terkait hukum fikih dan selanjutnya menyalurkan zakat, infaq, shadaqah, warisan, aqiqah dari Ummat Islam Amerika, eropa dan Australia kepada dluafa di Indonesia, utamanya Lombok. Oleh sebab itulah gedung-gedung di Nurul Haramain itu bernama Swiss Building, Autralia Building, Kanada Building, France Building karena muslim dari luar negerilah yang membangunnya.
Hubungan melalui isnet.org menautkan saya dengan Al Ustaz Syamsi Ali yang dari dahulu sampai sekarang menjadi Imam Masjid Washington DC. [Mungkin] melalui ustaz Syamsi Ali inilah, atau mantan pengurus isnet.org yang banyak menjadi dosen saat ini di Amerika, Pemerintah Amerika mengenal Nurul Haramain. Ustaz Syamsi Ali sampai saat ini menjadi kontac person Pemerintah Amerika untuk urusan Muslim Amerika.
Sejak tahun 2008, Nurul Haramain kemudian mendapat undangan berkunjung ke Amerika Serikat [ sdh berkunjung 2 orang guru, 4 orang santri ], setahun kemudian delegasi-delegasi Amerika [baik personal maupun Pemerintahnya] membalas kunjungan dan akhirnya tanggal 13 Juli 2012 kemarin Kedubes Amerika Serikat Untuk Indonesia mengantarkan seorang Imam masyarakat Muslim Amerika bernama Imam Assyaikh Muhammad Bashir Arafat. Beliau ini selain menjadi Dosen Di Universitas Amerika, juga mengelola Islamic Center dan sebuah Madrasah.
Dalam kunjungan 3 jam lebih di Nurul Haramain, menyaksikan methode pengajaran Cumputerized Based, Pendidikan multi language, Sistem Boarding School serta mendeteksi hasil pendidikan dengan tanya jawab dengan santri-santri dan guru, maka keluarlah Statemen Imam Muhammad Bashar Arafat: Agar Nurul Haramain dengan kemampuan seperti ini turut mendirikan lembaga Pendidikan Islam di Amerika Serikat.
Setelah saya konfirmasi kepada pihak Kedubes Amerika Serikat yang diwakili Mrs. Amily yang ikut dalam rombongan, maka kami mendapat jawaban: Amerika memerlukan lembaga pendidikan Islam Ala Nurul Haramain, untuk melengkapi yang sudah banyak diselenggarakan oleh ummat Islam Amerika asal Arab, India, Pakistan, Afrika dan Iran.
Hari ini, Senin 16 Juli 2012, setelah pelaksanaan Apel Tahunan PP. Nurul Haramain, Pengurus Yayasan memutuskan untuk melanjutkan niat baik itu. Segera setelah ini kita akan mengirim delegasi baik guru maupun santri untuk berkunjung ke Amerika Serikat , mempelajari situasi dan kondisi serta merekam hal-hal yang perlu sebagai dasar perumusan lembaga pendidikan Dasar Islam di sana. Untuk itu Pihak Imam Muhammad Bashir School akan mendukung fasilitas serta pihak Kedubes akan membantu legalitasnya.
Secara pribadi dan psikologis, keinginan ini sangat menggetarkan hati saya. mental saya antara berani dan gentar. Untuk itulah saya sampaikan saja hal ini di FDMN. Semoga Allah memberikan penerang jalan-Nya untuk perjuangan ini.
Wassalam
Narmada, 16 Juli 2012
A BIG WELCOME FROM WARSYI
selamat datang di blog LADESTA,,,,,,,,,,,,,,,
ini adalah salah satu blog Alumni PP. Nurul Haramain NW Narmada
maaf jika dalam blog ini banyak kekurangan dan belum sempurna,,,,,,
ini adalah salah satu blog Alumni PP. Nurul Haramain NW Narmada
maaf jika dalam blog ini banyak kekurangan dan belum sempurna,,,,,,
Monday, July 16, 2012
Thursday, June 14, 2012
IZINKAN SAYA MENYAMPAIKAN APA YANG MUNGKIN SEHARUSNYA SAYA SIMPAN SENDIRI: [Demi kemanfaatan. Semoga]
Oleh : TGH. Hasanain Juaini
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum wr. Wb.
Sejak 2003, setelah selesai dari LSM, saya bekerja diam-diam dan terbatas, tidak [nyaman] melibatkan masyarakat luas. Alhamdulillah Allah SWT. memberikan rahman rahim dan petunjuknya. Ringkasnya 3 Award Internasional diperoleh tak mungkin saya merekayasa apresiasi seperti itu.
Setelah undangan di Kick Andy [tayangan live Man Jadda wa Jada] ribuan kontak mendatangi saya dan akibatnya saya disibukkan oleh acara-acara yang kalau saya renungkan akan menjadikan saya MENYIBUKKAN DIRI DI DUNIA LUAS dan mengabaikan REALITAS Bangsa saya, NTB saya. Intinya saya mulai tidak tenang. Paling drastis saya menolak undangan ke Rio de jenairo, Washinton DC dan Turki dalam rangkan Global Green Economic Conference dan proyek internasional penulisan Biografy "The Genius Mother" [sejarah Ibu-ibu dari orang hebat dunia]
Sebagaimana dulu saya menolak melanjutkan utk mendirikan pesantren di malaysia, nurani saya berontak "kamu harus memberikan yang terbaikmu untuk NTB-mu". Kini pertanyaannya :
1. Apakah saya akan masih bekerja sendirian?
2. Atau menunggu saja sampai ada yang sudi membantu?
3. Atau mengupayakan MENGEMIS untuk dibantu?
==============
Keterbatasan saya mendorong utk melakukan apapun yang layak, kalau ternyata menurut pandangan orang lain [Bangsa saya sendiri], itu tidak layak, maka saya mohon maaf. Toh saya bisa merubahnya.
==============
4. Mungkinkah saya akan melarikan diri dari kesulitan sebagaimana para ilmuwan kita yang sangat banyak telah melakukannya? Sampai saat ini, jawaban dari saya TIDAK, tapi Umur ya umur, siapa yang bisa menahan lajunya pengurangan umur?
Dua tahun lagi umur saya 50 tahun [saya akan segera tua dan lemah], usia setua itu sudah dua kali lipat dari usia Sultan Muhammad 2 ketika menaklukkan Konstantinopel, sudah melebihi 15 tahun dari usia Saladdin ketika merebut Yerussalem. Usia 48 hanya cocok dengan usia Shah jahan ketika mendirikan monumen Taj Mahal.
Jadi, seharusnya saat ini saya sedang mendesign pendirian sebuah museum untuk mengenang perjalan perjuangan hidup saya, namun apa daya ternyata perjuanganpun belum saya bisa mulai. Sedih sekali.
Seandainya saja saya telah menemukan seorang anak muda digjaya dan bervisi PEJUANG NTB SEJATI, maka saya dengan bangga hati akan menjadi Gurukuli, mengabdi kepadanya, sepenuh hati dan energi. Tapi [lihatlah kawan, kenyataannya] kita hanya menemukan sedaratan dan selautan anak-anak manja yang bahkan lupa bahwa dia anak NTB.
5. Mengapa anda tidak bertekun saja di dalam pesantren anda dan diam-diam mendidik dan mengajar, tak perlu gembar gembor? kalau pertanyaannya begitu maka jawabnya:
Tugas Itu adalah Insya Allah Taqdir saya, tidak perlu saya memilihnya. dan itulah yang paling pantas "jika sudah ada yang mengambil peran LILLAHI TA'ALA "PEKERJA NTB SEJATI". Jika saya salah dan memang sudah ada [tunjukkan kepda saya].
=====
selanjutnya adalah pertanyaan paling brengsek dan bisa dipastikan akan muncul dari mulut yang tidak punya kosa kata lain selain POLITIK:
"MUNGKIN ANDA SEDANG MENGGALANG KEKUATAN UNTUK MENJADI BUPATI ATAU GUBERNUR" ???
Jawab:
"Nilai akhlaqul karimah" lebih bernilai bagi saya, tidak ada pretensi untuk menambah beban kesulitan bagi kedua fugur NTB dan Lombok Barat. Saya pastikan diri saya pada posisi membantu dan menolong mereka berdua [dengan sepantasnya]. Jadi anggota Dewan? Sama sekali tidak, tidak dan tidak.
Allahumma, semoga ini tidak bermakna mengeluh atas segala pemberianMU kepadaku dan kepada kami semua. Jika hamba boleh bertanya: KAPANKAH NTB kami ini bisa lepas dari keadaan memilukan ini. Semoga Engkau ya Allah CEMBURU dengan teriakan orang-orang: "Pulau seribu masjid kok kere".
Allahummagfirli wa lana. amiin.
Wassalam.
Narmada, 24 Rakab 1433 H
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum wr. Wb.
Sejak 2003, setelah selesai dari LSM, saya bekerja diam-diam dan terbatas, tidak [nyaman] melibatkan masyarakat luas. Alhamdulillah Allah SWT. memberikan rahman rahim dan petunjuknya. Ringkasnya 3 Award Internasional diperoleh tak mungkin saya merekayasa apresiasi seperti itu.
Setelah undangan di Kick Andy [tayangan live Man Jadda wa Jada] ribuan kontak mendatangi saya dan akibatnya saya disibukkan oleh acara-acara yang kalau saya renungkan akan menjadikan saya MENYIBUKKAN DIRI DI DUNIA LUAS dan mengabaikan REALITAS Bangsa saya, NTB saya. Intinya saya mulai tidak tenang. Paling drastis saya menolak undangan ke Rio de jenairo, Washinton DC dan Turki dalam rangkan Global Green Economic Conference dan proyek internasional penulisan Biografy "The Genius Mother" [sejarah Ibu-ibu dari orang hebat dunia]
Sebagaimana dulu saya menolak melanjutkan utk mendirikan pesantren di malaysia, nurani saya berontak "kamu harus memberikan yang terbaikmu untuk NTB-mu". Kini pertanyaannya :
1. Apakah saya akan masih bekerja sendirian?
2. Atau menunggu saja sampai ada yang sudi membantu?
3. Atau mengupayakan MENGEMIS untuk dibantu?
==============
Keterbatasan saya mendorong utk melakukan apapun yang layak, kalau ternyata menurut pandangan orang lain [Bangsa saya sendiri], itu tidak layak, maka saya mohon maaf. Toh saya bisa merubahnya.
==============
4. Mungkinkah saya akan melarikan diri dari kesulitan sebagaimana para ilmuwan kita yang sangat banyak telah melakukannya? Sampai saat ini, jawaban dari saya TIDAK, tapi Umur ya umur, siapa yang bisa menahan lajunya pengurangan umur?
Dua tahun lagi umur saya 50 tahun [saya akan segera tua dan lemah], usia setua itu sudah dua kali lipat dari usia Sultan Muhammad 2 ketika menaklukkan Konstantinopel, sudah melebihi 15 tahun dari usia Saladdin ketika merebut Yerussalem. Usia 48 hanya cocok dengan usia Shah jahan ketika mendirikan monumen Taj Mahal.
Jadi, seharusnya saat ini saya sedang mendesign pendirian sebuah museum untuk mengenang perjalan perjuangan hidup saya, namun apa daya ternyata perjuanganpun belum saya bisa mulai. Sedih sekali.
Seandainya saja saya telah menemukan seorang anak muda digjaya dan bervisi PEJUANG NTB SEJATI, maka saya dengan bangga hati akan menjadi Gurukuli, mengabdi kepadanya, sepenuh hati dan energi. Tapi [lihatlah kawan, kenyataannya] kita hanya menemukan sedaratan dan selautan anak-anak manja yang bahkan lupa bahwa dia anak NTB.
5. Mengapa anda tidak bertekun saja di dalam pesantren anda dan diam-diam mendidik dan mengajar, tak perlu gembar gembor? kalau pertanyaannya begitu maka jawabnya:
Tugas Itu adalah Insya Allah Taqdir saya, tidak perlu saya memilihnya. dan itulah yang paling pantas "jika sudah ada yang mengambil peran LILLAHI TA'ALA "PEKERJA NTB SEJATI". Jika saya salah dan memang sudah ada [tunjukkan kepda saya].
=====
selanjutnya adalah pertanyaan paling brengsek dan bisa dipastikan akan muncul dari mulut yang tidak punya kosa kata lain selain POLITIK:
"MUNGKIN ANDA SEDANG MENGGALANG KEKUATAN UNTUK MENJADI BUPATI ATAU GUBERNUR" ???
Jawab:
"Nilai akhlaqul karimah" lebih bernilai bagi saya, tidak ada pretensi untuk menambah beban kesulitan bagi kedua fugur NTB dan Lombok Barat. Saya pastikan diri saya pada posisi membantu dan menolong mereka berdua [dengan sepantasnya]. Jadi anggota Dewan? Sama sekali tidak, tidak dan tidak.
Allahumma, semoga ini tidak bermakna mengeluh atas segala pemberianMU kepadaku dan kepada kami semua. Jika hamba boleh bertanya: KAPANKAH NTB kami ini bisa lepas dari keadaan memilukan ini. Semoga Engkau ya Allah CEMBURU dengan teriakan orang-orang: "Pulau seribu masjid kok kere".
Allahummagfirli wa lana. amiin.
Wassalam.
Narmada, 24 Rakab 1433 H
Tuesday, June 12, 2012
LAPTOP LeING'S AKAN MENGHENTIKAN MAINAN MEDIS [Langkah Strategis Membangun NTB]
oleh : TGH. Hasanain Juaini
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Apa kehebatan Laptop LeING's rakitan PP. Nurul Haramain NW, Narmada? Ratusan kali pertanyaan itu masuk di inbox saya dan belum bisa saya jawab karena terkait masalah security product. Tapi kali ini, karena tujuan utamanya memang bukan semata cari duit, tapi untuk menjawab kebutuhan masyarakat ber-IPM rendah seperti kita kita ini, maka unsur security kami kesampingkan dan sudah pula kami menyiapkan strategi lain untuk menangkis kompetitor sejenis produk kita ini.
Kita tahu pentingnya bantuan para Dokter dan ahli medis lainnya bagi masyarakat NTB, namun masyarakat ini juga harus dibebaskan dari "mainan-mainan menggelikan" yang bermodus "memanfaatkan ke-awaman masyarakat" kita, sehingga biaya kesehatan menjadi berlipat kali besarnya. Contoh paling dekat adalah penggunaan Radiology Medis berupa Alat Ultra Sonogrhafy dan sering disingkat USG saja.
USG adalah suatu alat dalam dunia kedokteran yang memanfaatkan gelombang ultrasonik, yaitu gelombang suara yang memiliki frekuensi yang tinggi (250 kHz – 2000 kHz) yang kemudian hasilnya ditampilkan dalam layar monitor. Ini adalah ilmu kuno tahun 1920, lalu disempurnakan dengan sangat cepat setelah tahun 1990, dan kini seharusnya sudah menjadi alat biasa saja yang tak perlu di
"angker-angker" kan.
Lebih khusus masyarakat kita memanfaatkannya untuk mengetahui jenis kelamin anak yang sedang didalam kandungan. Bagus dan perlu juga kita tahu hal ini agar lebih mudah membuat persiapan menyambut si jabang bayi sehingga tidak perlu membeli baju berkelamin putra dan putri. Manfaat lain sebenarnya masih banyak lagi, tapi manfaat yang satu ini sangat perlu karena sering-sering pasien mendapat perlakuan tidak jujur sehingga pemeriksaan yg menggunakan USG dipungut bayaran khusus.
Kalau tambahannya sedikit atau seadanya, tentu tidak mengapa, tapi [seperti yang biasa kita hadapi di mana] biaya khusus itu mencapai 75 ribu sampai 200 ribu rupiah. apalagi kalau pasien hanya datang untuk tujuan mengecek kelamin anaknya. Nah inilah yang hendak di"damaikan" oleh Laptop LeING's dengan mencangkokkan hardware yang mampu bekerja sebagai processing unit seperti mesin USG modern dengan kemampuan 4 dimensi dan mampu menampilkan hasil olahan dalam full color, ditransfer kedalam JPG dan bisa ditransfer kedalam HP atau diprint seperti biasa mencetak potho2 sehari-hari.
Setiap pieces Laptop LeINGS's juga akan menghadiahkan gadged berupa Transduser.
Transduser adalah komponen USG yang ditempelkan pada bagian tubuh yang akan diperiksa, seperti dinding perut dalam pemeriksaan janin atau dinding poros usus besar pada pemeriksaan prostat atau bagian tubuh lain sesuai tujuan pemeriksaan. Transduser yang dibuat oleh "Putra Asli NTB" ini akan dilengkapi kristal canggih dan kamera yang juga dengan mudah membaca hasil scan dan hasil rontgen. Alhasil jika anda kelak memiliki laptop LeING'S buatan Putra NTB, maka berarti anda tidak perlu membeli mesin USG seharga 24 juta. anda juga dengan mudahnya membantu ibu-ibu hamil untuk mengetahui jenis kelamin bayinya gratis lagi.
Kalau ada yang bilang menggunakan USG menyebabkan radiasi dan membahayakan bayi di dalam kandungan, jawabnya enteng: Itulah dia bentuk mainan ahli medis yang tidak jujur selama ini. Tidak ada bahayanya sama sekali.
Akhirnya kami mohon doa, semoga Reting Rinpoche, Zulfikar Akbar, Novia Agustiar Rahmat, Khairi Habibullah, Abdul Hasan Abduh, Sutawan Indrayadi, segera merampungkan test gadget ini sehingga bisa menambah luasan areal tangkapan ultrasonicnya melebihi 12 cm. Harapannya kelak alat ini bisa dicolokkan ke HP sehingga menjadi lebih murah lagi dan bahkan para inak, amak dukun beranak kita dan tukang urut dapat memanfaatkannya untuk mengetahui letak penyakit dan jenis penyakit sehingga pengobatan mereka bisa lebih baik.
Sekali lagi doa doa dan doa dari masyarakat NTB, semoga Allah SWT merahmati kita semua dalam derap langkah "Menuju NTB Bersaing".
Wassalamu'alikum. Wr. Wb.
Lainnya, adalah:
1. Putra NTB banyak yang memiliki keahlian, namun memerlukan dukungan untuk menjadikan keahliannya itu terwujud menjadi produk;
2. Diantara sulitnya memcetak nilai tambah barang-barang komoditas dan setengah komoditas kita karena tidak ditunjang permesinan;
3. mekanisasi tersebut jelas tidak akan pernah terjembatani tanpa ada tambahan daya LISTRIK yang cukup besar.
4. Berfikir saja, tentu menyakitkan hati tanpa implementasi, dan
1,2,3 dan 4 sesungguhnya adalah tugas Pemerintah, masalahnya adalah : BAGAIMANA KALAU PEMERINTAH TIDAK MAU, ATAU TIDAK TAHU ATAU TIDAK BERANI?
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Apa kehebatan Laptop LeING's rakitan PP. Nurul Haramain NW, Narmada? Ratusan kali pertanyaan itu masuk di inbox saya dan belum bisa saya jawab karena terkait masalah security product. Tapi kali ini, karena tujuan utamanya memang bukan semata cari duit, tapi untuk menjawab kebutuhan masyarakat ber-IPM rendah seperti kita kita ini, maka unsur security kami kesampingkan dan sudah pula kami menyiapkan strategi lain untuk menangkis kompetitor sejenis produk kita ini.
Kita tahu pentingnya bantuan para Dokter dan ahli medis lainnya bagi masyarakat NTB, namun masyarakat ini juga harus dibebaskan dari "mainan-mainan menggelikan" yang bermodus "memanfaatkan ke-awaman masyarakat" kita, sehingga biaya kesehatan menjadi berlipat kali besarnya. Contoh paling dekat adalah penggunaan Radiology Medis berupa Alat Ultra Sonogrhafy dan sering disingkat USG saja.
USG adalah suatu alat dalam dunia kedokteran yang memanfaatkan gelombang ultrasonik, yaitu gelombang suara yang memiliki frekuensi yang tinggi (250 kHz – 2000 kHz) yang kemudian hasilnya ditampilkan dalam layar monitor. Ini adalah ilmu kuno tahun 1920, lalu disempurnakan dengan sangat cepat setelah tahun 1990, dan kini seharusnya sudah menjadi alat biasa saja yang tak perlu di
"angker-angker" kan.
Lebih khusus masyarakat kita memanfaatkannya untuk mengetahui jenis kelamin anak yang sedang didalam kandungan. Bagus dan perlu juga kita tahu hal ini agar lebih mudah membuat persiapan menyambut si jabang bayi sehingga tidak perlu membeli baju berkelamin putra dan putri. Manfaat lain sebenarnya masih banyak lagi, tapi manfaat yang satu ini sangat perlu karena sering-sering pasien mendapat perlakuan tidak jujur sehingga pemeriksaan yg menggunakan USG dipungut bayaran khusus.
Kalau tambahannya sedikit atau seadanya, tentu tidak mengapa, tapi [seperti yang biasa kita hadapi di mana] biaya khusus itu mencapai 75 ribu sampai 200 ribu rupiah. apalagi kalau pasien hanya datang untuk tujuan mengecek kelamin anaknya. Nah inilah yang hendak di"damaikan" oleh Laptop LeING's dengan mencangkokkan hardware yang mampu bekerja sebagai processing unit seperti mesin USG modern dengan kemampuan 4 dimensi dan mampu menampilkan hasil olahan dalam full color, ditransfer kedalam JPG dan bisa ditransfer kedalam HP atau diprint seperti biasa mencetak potho2 sehari-hari.
Setiap pieces Laptop LeINGS's juga akan menghadiahkan gadged berupa Transduser.
Transduser adalah komponen USG yang ditempelkan pada bagian tubuh yang akan diperiksa, seperti dinding perut dalam pemeriksaan janin atau dinding poros usus besar pada pemeriksaan prostat atau bagian tubuh lain sesuai tujuan pemeriksaan. Transduser yang dibuat oleh "Putra Asli NTB" ini akan dilengkapi kristal canggih dan kamera yang juga dengan mudah membaca hasil scan dan hasil rontgen. Alhasil jika anda kelak memiliki laptop LeING'S buatan Putra NTB, maka berarti anda tidak perlu membeli mesin USG seharga 24 juta. anda juga dengan mudahnya membantu ibu-ibu hamil untuk mengetahui jenis kelamin bayinya gratis lagi.
Kalau ada yang bilang menggunakan USG menyebabkan radiasi dan membahayakan bayi di dalam kandungan, jawabnya enteng: Itulah dia bentuk mainan ahli medis yang tidak jujur selama ini. Tidak ada bahayanya sama sekali.
Akhirnya kami mohon doa, semoga Reting Rinpoche, Zulfikar Akbar, Novia Agustiar Rahmat, Khairi Habibullah, Abdul Hasan Abduh, Sutawan Indrayadi, segera merampungkan test gadget ini sehingga bisa menambah luasan areal tangkapan ultrasonicnya melebihi 12 cm. Harapannya kelak alat ini bisa dicolokkan ke HP sehingga menjadi lebih murah lagi dan bahkan para inak, amak dukun beranak kita dan tukang urut dapat memanfaatkannya untuk mengetahui letak penyakit dan jenis penyakit sehingga pengobatan mereka bisa lebih baik.
Sekali lagi doa doa dan doa dari masyarakat NTB, semoga Allah SWT merahmati kita semua dalam derap langkah "Menuju NTB Bersaing".
Wassalamu'alikum. Wr. Wb.
Lainnya, adalah:
1. Putra NTB banyak yang memiliki keahlian, namun memerlukan dukungan untuk menjadikan keahliannya itu terwujud menjadi produk;
2. Diantara sulitnya memcetak nilai tambah barang-barang komoditas dan setengah komoditas kita karena tidak ditunjang permesinan;
3. mekanisasi tersebut jelas tidak akan pernah terjembatani tanpa ada tambahan daya LISTRIK yang cukup besar.
4. Berfikir saja, tentu menyakitkan hati tanpa implementasi, dan
1,2,3 dan 4 sesungguhnya adalah tugas Pemerintah, masalahnya adalah : BAGAIMANA KALAU PEMERINTAH TIDAK MAU, ATAU TIDAK TAHU ATAU TIDAK BERANI?
Monday, June 4, 2012
SECARIK SYAIR YANG TERLUPAKAN
Oleh : TGH. Hasanain Juaini
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Derai air mata yang berhamburan ketika makanan dan minuman berlimpah ruah adalah tangisan cengeng yang tak pantas digubris. Isak tangis ketika pintu dan jalan terbuka lebar adalah rintihan pungguk merindukan bulan.
Tapi ketika dada berdegup, jantung terpacu dan darah mendesir karena membayang sosok pemuda gagah perkasa, penuh keberanian tak memiliki rasa gentar dan sendirian menantang musuh, maka saat itu, air mata adalah butiran air keimanan yang akan menyuburkan benih baru dari pohon perjuangan. Tangis jenis inilah, diringi air mata yang menitik dari wajah bijak bestari seorang penyair besar kita, Ali At-Thontowy.
Makna syair itu baginya begitu dalam karena yang menulisnya adalah pelaku sejarahnya sendiri. Seorang pemuda Granada bernama Musa al Ghassany. Abu Ghassan, sang ayah, memang memberi nama putranya itu ‘Musa’ agar kelak dia menjadi Belati Tajam, seperti arti namanya itu.
Membaca Sejarah Granada, imajinasi kita akan melayang melihat wajah yakin dan berani panglima Musa bin Nushoir yang memimpin pasukannya membelah laut hitam dan laut mati, laut yang tak banyak manusia berani mengarunginya. Puncaknya, khayal kita akan menerawang kepada sosok panglima yang diutus Musa Bin Nushoir yaitu Thoriq bin Ziad yang kemudian dengan gemilang menuntaskan tugasnya mendekap Spanyol (711 M) dalam rangkulan sejarah peradaban Islam.
Sejarah juga mencatat dengan baik, ketika Abdurrahman Ad-Dakhil yang saat itu menjadi seorang pemuda pelarian, berhasil mengarungi sahara ganas irak, melintasi gurun Syria menuju Palestina. Kemudian menyeberangi gurun Sinai ke Mesir, lalu melewati beberapa wilayah Afrika menuju Andalusia (Spanyol) yang telah ditaklukkan oleh nenek moyangnya dari Dinasti Umayyah. Mula-mula ia datang sebagai mata-mata. Saat dia berdiri di Kota Granada, hari itu juga dia membisiki hatinya: “disini nanti kita akan mendirikan Masjid”. Dia merebut kembali Spanyol (755 M) hanya sebulan jaraknya dari saat dia masuk pertama kali itu.
Tapi kali ini kita tidak akan membicarakan kisah sukses. Kita akan menjelajahi bathin penyair kita “Adnan Mardim Bek”. Adnan seperti gurunya Ali At-Tonthowy tidak menangis denan sembarang tangis, tapi karena sejarah lupa mencatat mutiara-mutiara dan zamrud manikam yang tertimbun oleh lumpur peristiwa Jatuhnya Granada (1492). Penyair ini meratap dan melekatkan lembaran kecil syair Musa Al Ghassan dalam dekapannya dan berucap:
Pahlawan sejati itu lahir
Tidak di meja makan
Tidak pula di katil pengantin
Tapi diatas amuk derita tak terperi.
Malam gelap gulita,
2 januari 1492
Bumi akan membaiat
Seorang pahlawan sejati
Bulan Juli 1491, Raja Ferdinand V telah mengepung Granada. Ia berhasil menguasai kota Malaga-kota pelabuhan terkuat di Andalusia, lalu Guadix dan Almunicar, Baranicar, dan Almeria. Tujuh bulan sudah masa pengepungan itu; Bantuan dari Bagdad, Damaskus, Mesir dan Afrika sudah tidak mungkin diharapkan. kini yang tersisa hanya basis kerajaan Bani Ahmar, Granada. Ratusan ribu tentara dan rakyat jelata sudah menjadi korban, puluhan kota ratusan Desa dengan masjid dan kuburan diratakan dan telah menjadi bara dan abu.
Malam ini, tepatnya 2 Januari 1492 M/2 Rabiul Awwal 898 H. Khalifah terakhir Bani Ahmar, Abu Abdillah. Mengumpulkan sisa-sisa penduduk muslim di halaman Istana Alhambra untuk membahas ultimatum Ferdinand yang hanya berisi dua opsi: menyerah atau mati.
Khalifah dan semua para pembesar Bani Ahmar bersepakat untuk menyerah dan kini hanya perlu membahas bagaimana proses penyerahan itu. Pada saat genting dan menciutkan nyali itu, berdirilah seorang pemuda dengan terengah-engah, karena dia baru kembali dari tugas pengintaian, dengan lantang diteriakkannya syair yang kini kutipannya ada di tangan Penyair Adnan Mardin Bek itu:
Pantang kubersujud
Untuk secarik naskah perjanjian
Yang merendahkan martabatku
Apa alasanku untuk takut?
Bukankah mati hanya satu
Cepat atau lambat?
Tidak...tidak sudi
Aku ingin menulis sejarah kematianku
Dengan tanganku sendiri
Aku ingin menjadi pedang
Aku harus menjadi tombak
Sekaligus kuda yang menerjang terjang
Aku takkan sudi
Meniti hidup dan ajalku
Untuk sekedar menjadi budak.
Aku ingin menjadi tuan
Mati sebagai tuan lebih mulia
Daripada mati membungkukkan badan.
Itulah sesuatu, yang tersisa dari apa yang bisa dicatat dari Musa Al-Ghassan yang setelah mengucapkan syairnya lalu menderu menyongsong musuh dan tiada yang tahu apa yang terjadi setelah itu. Nyawanya boleh melayang, jasadnya bisa dilenyapkan tapi semangatnya harus tetap menjadi bara api yang seharusnya membakar semangat perlawanan membela martabat dan harga diri.
Wallahu aklam Bisshowab
Narmada, 3 Juni 2012.
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Derai air mata yang berhamburan ketika makanan dan minuman berlimpah ruah adalah tangisan cengeng yang tak pantas digubris. Isak tangis ketika pintu dan jalan terbuka lebar adalah rintihan pungguk merindukan bulan.
Tapi ketika dada berdegup, jantung terpacu dan darah mendesir karena membayang sosok pemuda gagah perkasa, penuh keberanian tak memiliki rasa gentar dan sendirian menantang musuh, maka saat itu, air mata adalah butiran air keimanan yang akan menyuburkan benih baru dari pohon perjuangan. Tangis jenis inilah, diringi air mata yang menitik dari wajah bijak bestari seorang penyair besar kita, Ali At-Thontowy.
Makna syair itu baginya begitu dalam karena yang menulisnya adalah pelaku sejarahnya sendiri. Seorang pemuda Granada bernama Musa al Ghassany. Abu Ghassan, sang ayah, memang memberi nama putranya itu ‘Musa’ agar kelak dia menjadi Belati Tajam, seperti arti namanya itu.
Membaca Sejarah Granada, imajinasi kita akan melayang melihat wajah yakin dan berani panglima Musa bin Nushoir yang memimpin pasukannya membelah laut hitam dan laut mati, laut yang tak banyak manusia berani mengarunginya. Puncaknya, khayal kita akan menerawang kepada sosok panglima yang diutus Musa Bin Nushoir yaitu Thoriq bin Ziad yang kemudian dengan gemilang menuntaskan tugasnya mendekap Spanyol (711 M) dalam rangkulan sejarah peradaban Islam.
Sejarah juga mencatat dengan baik, ketika Abdurrahman Ad-Dakhil yang saat itu menjadi seorang pemuda pelarian, berhasil mengarungi sahara ganas irak, melintasi gurun Syria menuju Palestina. Kemudian menyeberangi gurun Sinai ke Mesir, lalu melewati beberapa wilayah Afrika menuju Andalusia (Spanyol) yang telah ditaklukkan oleh nenek moyangnya dari Dinasti Umayyah. Mula-mula ia datang sebagai mata-mata. Saat dia berdiri di Kota Granada, hari itu juga dia membisiki hatinya: “disini nanti kita akan mendirikan Masjid”. Dia merebut kembali Spanyol (755 M) hanya sebulan jaraknya dari saat dia masuk pertama kali itu.
Tapi kali ini kita tidak akan membicarakan kisah sukses. Kita akan menjelajahi bathin penyair kita “Adnan Mardim Bek”. Adnan seperti gurunya Ali At-Tonthowy tidak menangis denan sembarang tangis, tapi karena sejarah lupa mencatat mutiara-mutiara dan zamrud manikam yang tertimbun oleh lumpur peristiwa Jatuhnya Granada (1492). Penyair ini meratap dan melekatkan lembaran kecil syair Musa Al Ghassan dalam dekapannya dan berucap:
Pahlawan sejati itu lahir
Tidak di meja makan
Tidak pula di katil pengantin
Tapi diatas amuk derita tak terperi.
Malam gelap gulita,
2 januari 1492
Bumi akan membaiat
Seorang pahlawan sejati
Bulan Juli 1491, Raja Ferdinand V telah mengepung Granada. Ia berhasil menguasai kota Malaga-kota pelabuhan terkuat di Andalusia, lalu Guadix dan Almunicar, Baranicar, dan Almeria. Tujuh bulan sudah masa pengepungan itu; Bantuan dari Bagdad, Damaskus, Mesir dan Afrika sudah tidak mungkin diharapkan. kini yang tersisa hanya basis kerajaan Bani Ahmar, Granada. Ratusan ribu tentara dan rakyat jelata sudah menjadi korban, puluhan kota ratusan Desa dengan masjid dan kuburan diratakan dan telah menjadi bara dan abu.
Malam ini, tepatnya 2 Januari 1492 M/2 Rabiul Awwal 898 H. Khalifah terakhir Bani Ahmar, Abu Abdillah. Mengumpulkan sisa-sisa penduduk muslim di halaman Istana Alhambra untuk membahas ultimatum Ferdinand yang hanya berisi dua opsi: menyerah atau mati.
Khalifah dan semua para pembesar Bani Ahmar bersepakat untuk menyerah dan kini hanya perlu membahas bagaimana proses penyerahan itu. Pada saat genting dan menciutkan nyali itu, berdirilah seorang pemuda dengan terengah-engah, karena dia baru kembali dari tugas pengintaian, dengan lantang diteriakkannya syair yang kini kutipannya ada di tangan Penyair Adnan Mardin Bek itu:
Pantang kubersujud
Untuk secarik naskah perjanjian
Yang merendahkan martabatku
Apa alasanku untuk takut?
Bukankah mati hanya satu
Cepat atau lambat?
Tidak...tidak sudi
Aku ingin menulis sejarah kematianku
Dengan tanganku sendiri
Aku ingin menjadi pedang
Aku harus menjadi tombak
Sekaligus kuda yang menerjang terjang
Aku takkan sudi
Meniti hidup dan ajalku
Untuk sekedar menjadi budak.
Aku ingin menjadi tuan
Mati sebagai tuan lebih mulia
Daripada mati membungkukkan badan.
Itulah sesuatu, yang tersisa dari apa yang bisa dicatat dari Musa Al-Ghassan yang setelah mengucapkan syairnya lalu menderu menyongsong musuh dan tiada yang tahu apa yang terjadi setelah itu. Nyawanya boleh melayang, jasadnya bisa dilenyapkan tapi semangatnya harus tetap menjadi bara api yang seharusnya membakar semangat perlawanan membela martabat dan harga diri.
Wallahu aklam Bisshowab
Narmada, 3 Juni 2012.
Subscribe to:
Posts (Atom)