slide foto

Loading...

A BIG WELCOME FROM WARSYI

selamat datang di blog LADESTA,,,,,,,,,,,,,,,
ini adalah salah satu blog Alumni PP. Nurul Haramain NW Narmada
maaf jika dalam blog ini banyak kekurangan dan belum sempurna,,,,,,

Sunday, August 28, 2011

TGH HASANAIN DJUAINI MUKHTAR MEMAJUKAN PONPES NURUL HARAMAIN

MATARAM – 31 Agustus 2011 mendatang, bertempat di Manila Filipina, Ketua Yayasan Perguruan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan yang membawahi Nurul Haramain (Ponpes NH) Putri Tuan Guru Haji (TGH) Hasanain Juaini, 47 tahun, akan memperoleh penghargaan Ramon Magsaysay.
Ini adalah bentuk keberhasilannya yang diberikan oleh Alternative Indigenous Development Foundation (AIDFI) , Inc.dalam mengelola pendidikan Ponpes NH Putri yang didirikan sejak 1996 dan pelestarian lingkungan yang dilakukannya sejak lima tahun yang lalu. Sebelumnya, ia sudah berhasil menghimpun 130 ponpes di daerahnya dalam koalisasi anti korupsi.
Tahun 2011 ini, selain Hasanain Juaini yang memperoleh penghargaan Ramon Magsaysay adalah Harish Hande (India), Koul Panha (Cambodia), Nileema Mishra (India), Tri Mumpuni (Indonesia). AIDFI memilih Hasanain Juaini dengan Ponpes NH Putri karena pengakuannya terhadap sikap dasar Hasanain Juaini yang membentuk komunitas berbasis pendekatan pendidikan pesantren, kreatif mempromosikan nilai-nilai kesetaraan gender, kerukunan beragama, pelestarian lingkungan, prestasi individu, dan keterlibatan masyarakat di kalangan muda Indonesia dan masyarakat.
Ponpes Nurul Haramain didirikan oleh orang tuanya almarhum Juaini Muchtar, 1952. Namun waktu itu masih tradisional. Kemudian sebagai lembaga pendidikan modern secara bergantian didirikan Ponpes NH Putra (1992) dan Ponpes NH Putri (1996.
Saat ini, jumlah semua santriwati Madrasah Tsanawiyah (MTS) dan Madrasah Aliyah (MA) sebanyak 554 orang. Santriwati Madrasah Tsanawiyah 318 orang yang terdiri dari kelas satu sebanyak empat kelas, kelas dua (3), kelas tiga (3). Selebihnya adalah 2336 orang santriwati MA kelas satu (3) , kelas dua (3) dan kelas tiga (2). Di MA ada jurusan IPA dan Bahasa. Di lingkungan kompleksnya, ia menyiapkan 18 spot akses internet untuk keperluan belajar di ruang kelas dan juga santri yang memiliki laptop.
Sebenarnya, latar belakang pendidikan Hasanain adalah Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Mataram (FH Unram) tahun 2006, LIPIA Jakarta (1995), SLTA, KMI Gontor, Jawa Timur (1984), MTs. NW Narmada, Lombok Barat, NTB (1978), Madrasan Ibtidaiyah Nahdlatul Wathan Tanak Paruh, Narmada, Lombok Barat, NTB (1975). Namun, sebagai pengelola lembaga pendidikan, Hasanain Juaini memiliki terobosan di bidang pendidikan yang bisa disebut sebagai perintis di NTB.
Seorang pengajar Biologi di sana, Yusuf, menjelaskan bahwa idenya keras, terkadang tidak secara langsung dipahami. ‘’Beda pentium dengan kami,’’ kata Yusuf menilai ketrampilan inovasi Hasanain untuk kemajuan ponpes yang dipimpinnya.
Bendahara pondok, Mariani, 25 tahun mengatakan kesannya terhadap Hasanain adalah sebagai pekerja keras. ‘’Tetapi orangnya supel ramah untuk semua orang, bersahabat,’’ kata Mariani yang juga alumni MTs dan MA di sana. Selebihnya, Mariani yang berasal dari Dusun Kelana Sintung Pringgarata Lombok Tengah sejak 1998 menyelesaikan studinya jurusan Bahasa Indonesia di STKIP Hamzanwadi Pancor Lombok Timur. Disebutnya kemudian oleh Mariani, program penghijauan Lembah Madani (Lembah Suren) yang luasnya 36 hektar. “Dulu orang ragu. Ternyata dengan kerja keras bisa sukses menghijaukan tanah tandus,’’ ujar Mariani.
Ia juga memberangkatkan para santriwatinya lebih dulu belajar bahasa Inggris selama 3-4 bulan di Pare Kediri Jawa Timur. Hasanain mengaku sebagai program potong kompas yang dikutipnya dari istilah Accelerated Learning. Menurutnya, bagamainana memperlakukan anak didik sesuai kapasitas potensi anak. Bukan anak yang dipaksakan sesuai program guru. ‘’Tapi program lah yang mengapresiasi,’’ ucapnya.
Di sana pula, Hasanain membuka kesempatan para santri dan santriwati untuk menjalani ujian kapan pun sewaktu merasa siap. Jadi, misalnya enam bulan lagi semester santrinya minta ujian terlebih dahulu dan lulus berarti setelah itu tidak perlu masuk kelas. Pertanyaannya lalu untuk apa kekosongan waktu mereka? ‘’Itulah kami berpikir mengirim ke luar daerah,’’ katanya.
Dan pertama kali saat itu, ditentang oleh pejabat pemerintah dan para kepala sekolah atau pemimpin pondok yang lainnya. Alasannya yang menentang, kenapa sampai empat bulan meninggalkan sekolah. ‘’Ternyata begitu mereka pulang dari luar daerah, banyak yang mereka dapatkan,’’ ujarnya. Di sana mereka juga adaptasi dengan santri lain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam banyak hal membawa efek yang baik. Sekarang 4-5 tahun terakhir ini hampir semua sekolah mengikutinya. Misi dasarnya, karena di pondoknya tidak banyak anak Indonesia di sini maka anak-anak di sini perlu keluar.
Soal pembiayaan bukan karena orang tua santri semuanya mampu. Ia mengatakan sebagai mazhab yang berbeda terhadap pembiayaan pendidikan. Ia mengingatkan agar tidak diperseterukan antara pendidikan dengan biaya. ‘’Itu berbahaya, berarti mematerikan. Padahal Islam menuntut belajar itu ibadah,’’ ucapnya.
Perihal kepeduliannya terhadap konservasi alam, ia menyebutkan sudah menghasilkan bibit tanaman mahoni 64 ribu batang, Gamelina alias Jati Putih 110 ribu batang, Albasia alias Sengon Laut 5 ribu batang, Lumpang alias Randu Alas 1.000 batang. ‘’Apa yang membuat saya gelisah? Sebetulnya ya sederhana,’’ katanya.
Ia mengutip Al Qur’an mengenai dua amanah penciptaan, yaitu memelihara melestarikan alam dan sekaligus di atas alam yang lestari itu sekaligus melakukan ibadah. ‘’Duanya saling ikat. Tidak bisa salah satu saja,’’ ucapnya. Kemudian ia menunjuk banyaknya orang yang berbuat maling padahal berada di pulau seribu masjid. Ini bisa terjadi karena kondisi sosialnya kekurangan. Tidak dirasakan kebebasan tidak dirasakan kesejahteraan atau keadilan. ‘’Ya pasti ngawur saja masyarakatnya,’’ ujar Hasanain di Ponpes Nurul Haramain Putri.(*)
Dikutip dari Lomboknews.com Jum'at, 19 August 2011 •

No comments:

Post a Comment